Monday, January 31, 2011

Nostalgia Di Hujung Senja- Ayahanda Dato' Dr. Sidik Fadzil


Kutatap, kujabat, kudakap erat
Tubuh-tubuh berbalut kulit mengeriput
Memutih dari rambut ke janggut
Dapat kurasakan hangatnya setiakawan
Tiga dekad sepakat setekad
Bersama terhumban di padang karang
Tersadai diamuk badai

Ku tatap wajah-wajah teman lama
Ketika mata pudar berkisar mengitar dari meja ke meja
Terasa ada yang tiada
Kutanyakan khabar rakan-rakan seangkatan yang tak kelihatan
Si Suto dan Si Noyo, Si Awang dan Si Ujang
Si Dali dan Si Mamat

Katanya
Si Suto hilang tak tahu rimbanya
Si Noyo ghaib entah di mana nisannya
Si Awang sibuk mendulang wang
Mahu jadi jutawan gedongan
Pemilik dagangan bergudang-gudang
Si Mamat tak sempat
Terlalu penat kerja kuat, mahu jadi Yang Berhormat
Sudah empat kali lompat
Belum juga dapat

Mana Si Ujang
Yang dulu memencak-mencak membela keadilan?
Katanya: Si Ujang tak dapat datang
Kini dia berada di seberang
Jalan-jalan cari makan

Bagaimana dengan Si Embong?
Katanya, dia masih berkabung
Menangisi isterinya, Dewi Demokrati
Yang baru mati
Dibelasah hantu pangkah

Apa khabar Si Fatah?
Alhamdulillah, dia tidak berubah
Masih betah berusrah
Pejam dalam al-Fatihah
Celik kembali dengan wa’l-‘asri

Mana Si Dali
Orang kuat yang dulu mendapat pingat
Wira Sakti, Panglima Besi
Katanya, Si Dali uzur lagi
Kencing manis, darah tinggi
Saban minggu ke KBMC

Mana Si Wira?
Aku rindu bicaranya yang selalu menggetar jiwa
Katanya: setelah bersengketa dengan Mamak Bendahara
Si Wira pergi bertapa
di Gua Panjaraga
berguru di Hulu Sungai Bambu
Nanti Wira kan kembali
Dan pasti lebih sakti lagi …..

II

Detik-detik nostalgik
Memecah tawa-tangis printis
Yang lama membeku terbuku
Dalam kelu lidah sejarah

Kutatap wajah-wajah layu
Teman-teman lamaku: mahaguru dan KSU
Pembesar bergelar, figure tersohor

Ingin rasanya aku bertanya
Masihkah kau ingat asal-usulmu?

Anak kampung paling hulu
Merangkak ke gedung ilmu bernama M.U
Diiringi doa orang tua yang bangga
Dibebani harapan warga desa yang sengsara

Mahasiswa pemimpin hari muka
Cendekia dalam pustaka pujangga
Dewasa dalam gelora demo di jalan raya
Akdemia, semangat agama merbah anak desa
Menjadi “ elemen yang sedar dari masyarakat”
Jurubicara umat, penyuara aspirasi rakyat
Kau bangkit bersama mahasiswa menggugat
Pengkhianat dan penjilat
Masih terasa perihnya prasangka, pedihnya telinga
Dituduh penderhaka
Anak muda tak kenang jasa
Mempersenda “Bapak Merdeka”

Peduli apa kata derhaka yang sudah lama hilang bisa
Sejak ternodanya makna
Menjadi senjata penguasa menindas jelata

Membangkang bukan menanggang
Mendebat bukan menjebat
Ingin rasanya kupinjam suara raksasa
Mendeklarasi derhaka versi kita
Derhaka kita jihad mulia
Dari setia menjadi hamba, biar derhaka demi merdeka
Dari setia seperti Haman, biar derhaka sebagai Musa

Kutatap wajah-wajah istiqamah
Tak tergoyah dek duit berkampit
Tak patah dek kenyit dan gamit si genit
Meski di sini banyak dera dan deritanya
Kita tetap setia
Warga bertaqwa bahagia di bumi derita
Tetapi mewah dengan barakah, meriah dengan ukhuwwah

Dari pita nostalgia memori pagi
Kini kita tiba di senja penuh hiba
Ketika ufuk senja memerah
Tanda mendekatnya saat berpisah
Aku resah dalam gelabah muhasabah
Setitik jasa, selaut dosa

Seakan kulihat malaikat mencatat
Kalimat-kalimat sinis menghiris
Dasar si dungu tak tahu malu
Modal amal sekepal, mengharap untung segunung
Usia senja, menjadi pesara
Bukan masa lega merdeka
Puas melepas, menghempas tugas yang digalas
Ia adalah masa cedera yang cemas
Sisa-sisa nafas di simpangan arah
Husnu’l-khatimah-su’u ‘l-khatimah

Hari kita semakin senja
Segudang agenda tak terlaksana
Mengharap pewaris setia
Penerus cita-cita, penebus kecewa
Tapi, di mana mereka?

Ya Tuhan,
Dengarkan pinta hamba di hujung senja
Seperti dulu Kau perkenan do’a Zakariya
Pengabdi tua meminta putera
Lalu Kau kurniakan Yahya
Sayyida, hasura, nabiyya

Ya Tuhan,
Berkenan kiranya mencurah kurnia
Seribu Yahya, sepetah Harun, segagah Musa
Menyanggah bedebah media pendusta
Mendaulat agama, memperkasa bangsa



Dato Dr. Siddiq Fadzil


:: Hayati bait-bait akhir...harapan seorang ayahanda kepada anak-anaknya...

Sunday, January 30, 2011

Pak Samad


ABJAD BERTARING

Kita meningkat dewasa dalam era mendera
ketika wawasan bangsa masih liar tercabar.
Ranum sebagai pendeta, ingin santun berhujah,
aneh, kita berobah menjadi robot yang gusar.
Kita junjungi hajat ke kitab adat berseni,
mengasuh diri mengibar hanya panji sendiri.
Ingin cepat, terkadang kita tergelincir lagi;
mengenangi Kongres, maruah pedih ke ulu hati.
Kita gopoh merombak cogan seenak mungkin;
serentak ghairah melanyak rimba dara yang tua.
Bertambah canggih, diri masih kurang yakin;
menumbang balak menghempap mata-air yang ada.
Kita urus dana biliona cara gogokan
seolah saja lupa baki untuk digebukan.
Kita mudah megah dengan segala jenis harta,
khazanah budi sesenyapnya seperti dijerkah.

Kini, sedungunya kita panaskan nafas bumi;
alam hening, malah, seenak saja dibingiti.
Kita cetuskan cuaca celaru bagi insan
dan terus merebus buana dalam keraguan.
Kita lakari peta kuasa berwarna-warni,
bila berdarjat, Akta Bahasa pun dicemari.
Memang tak merdu lagi qasidah Abdullah Munsyi
semenjak keris Hang Tuah berhelah dicuri.
Tapi rakyat bakal teliti kerenah Wakilnya:
janji secantik permata atau hodoh bekerja.
Mereka tapis keledak kempen dari isinya—
dijunjung tembolok atau dibela anak murba.
Dengan hikmah warisan dari leluhur mulia
bakal ditanduskan undi atau dibanjirkannya.
Murba tambah gagah tukar gigi asah taring,
tak berbisik; mereka sedia lolong menengking!

8—11, Jun, 2009. ——A.SAMAD SAID


:: Citra...

Thursday, January 27, 2011

KEMI (Dr. Adian Husaini)

Bismillah.


Novel 'KEMI: Cinta Kebenaran Yang Tersesat' lahir ditengah-tengah gelodak serangan pemikiran yang dahsyat di Indonesia-fahaman Liberal yang membawa bersama idea pluralise agama. Idea liberal di jalankan melalui pelbagai cara dari penulisan novel, media, wayang dan sebagainya. Di dalam novel ini ia menceritakan nasib para santri di persantren-pesantren yang telah menjadi mangsa penipuan para liberalis dan intelektualis yang kononnya ingin membangunkan keharmonian antara agama. Malangnya ramai juga pendokong utamanya merupakan para intelektualis dan akademik yang terang-terangan mengaku sebagai Liberal.

Kemi atau Sukemi seorang santri yang cerdas. Bersama teman rapatnya, Rahmat, mereka bersama-sama menjadi pelajar contoh dan kebanggaan Kiyai Rois. Malah Kiyai Rois telah memberi kepercayaan kepada mereka untuk mengajar di pesantren. Namun, niat Kiyai Rois tidak terlaksana apabila Kemi berkeras mahu melanjutkan pengajian di Jakarta atas bantuan Farsan, bekas santri di Pesantren Minhajul Abidin itu.

Naluri Kiyai Rois ternyata tepat apabila penelitian Rahmat ke atas aktiviti Kemi di Jakarta menyebabkan Kemi tenggelam di dalam aliran Islam Liberal. Malah Kemi menjadi salah seorang pendukung Islam Liberal yang menjalankan dakyah di sekitar Indonesia. Idea-idea liberal yang dibawa Kemi kononnya untuk mencapai satu tahap keharmonian di mana setiap agama di dunia ini dapat menerima dan menghormati pendapat satu sama lain. Baginya manusia harus melihat agama dari kacamata yang sama dimana setiap agama menuju kepada satu matlamat dan semuanya menyembah kepada Tuhan yang sama walaupun berlainan nama/gelaran.

Cabaran Kemi terhadap Rahmat menjadi titik awal rencana Kiyai Rois untuk menyelamatkan Kemi di lapangan. Rahmat di berikan misi berat untuk terjun ke dalam lingkungan pergaulan Kemi. Cabaran Kemi itu kononnya untuk meguji sejauh mana seseorang itu mampu bertahan dengan lingkungannya. Kemi merasakan Rahmat akan terpengaruh dengan fahaman-fahaman liberal apabila dia semakin banyak bergaul dengan di kalangan teman dan para pemikir-pemikir yang banyak mempengaruhinya di Kampus.

Namun Rahmat awal-awal lagi sudah dipersiapkan oleh Kiyai Rois. Rahmat di isi kesedaran memahami pelbagai fahaman baru seperti pluralisme, multikulturalisme, relativisme malah mengkaji idea-idea Harvey Cox dan meneliti buku-buku Ahmad Wahib yang merupakan aktivis Islam Liberal. Rahmat sedar perjuangannya bukan mudah. Namun demi agama Islam di cintai dan demi keyakinannya kepada agama Allah itu, langkahnya diteruskan tanpa ragu-ragu.

Di Kampus, Rahmat bergabung dengan teman-teman Kemi sambil meneliti setiap tingkah dan perjalanan gerakan Liberal di sana. Rahmat di kenalkan dengan Siti yang juga merupakan bekas santriwati di sebuah pesantren. Siti menceritakan bahawa ia adalah pilihannya untuk belajar di kampus itu dan memilih fahaman liberal dengan alasan sebagai salah satu hak kebebasan. Siti malah aktif di dalam aktiviti memperjuangkan hak kesamarataan gender.

Kehadiran Rahmat di Kampus Damai-Sentosa pada awalnya tidak diendahkan sesiapa kecuali Kemi, namun selepas perdebatan bersama Prof. Malikan, pensyarahnya sendiri di dewan kuliah, namanya menjadi perhatian banyak pihak. Ditambah perdebatan dengan Kiyai Dulpikir sehingga Kiyai itu meninggal selepas perdebatan lebih-lebih lagi mendatangkan perhatian dunia kepadanya termasuk media. Malah siapa sangka tidak lama selepas itu nyawanya dan Kemi dalam bahaya.

Akhirnya....andai kalian mahu tahu pengakhiran kisah ini, bacalah sendiri buku ini. :)


Wallahu'alam..

Keane - Everybody's Changing


You say you wander your own land
But when I think about it
I don't see how you can

You're aching, you're breaking
And I can see the pain in your eyes
Says everybody's changing
And I don't know why

So little time
Try to understand that I'm
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody's changing
And I don't feel the same

You're gone from here
Soon you will disappear
Fading into beautiful light
'Cause everybody's changing
And I don't feel right

So little time
Try to understand that I'm
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody's changing
And I don't feel the same

So little time
Try to understand that I'm
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody's changing
And I don't feel the same

Oh
Everybody's changing
And I don't feel the same


:: Bermain hati..

Wednesday, January 26, 2011

Hikmah itu bijak..

Bismillah.

a.K.u teringat seseorang telah telah menjelaskan bahawa hikmah itu adalah kebijaksanaan.
Jadi orang yang hilang hikmah itu tidak bijaksana,

dan a.K.u mahu jadi orang yang bijaksana,
sebagaimana a.K.u juga mahu menjadi seorang yang hikmah.
InsyaAllah.

Teman yang paling akrab dalam mengajarkan a.K.u soal hikmah,
pastilah buku.
(Ya, walaupun belajar itu tidak semsetinya dari buku.)

a.K.u cuba memahami sosok ranap sedalamnya.
Tapi mampu a.K.u cuma sedikit.
Kerna a.K.u mencari yang santun.
Maaf.

Dan ya..


mungkin a.K.u masih lagi dikuasai hikmah dan santunnya Pak Samad
dalam antologi puisinya yang a.K.u sangat kagumi itu.
Memanglah tidak manis untuk membandingkan.
Tapi andai ini yang dikatakan sebuah hak untuk menyampai pendapat.
Hmmm..

Pak Samad.
a.K.u tahu a.K.u takkan mampu memiliki citra seninya.
Apatah lagi hikmahnya..
Sedang a.K.u dalam kesabaran bertemunya.
Moga ada sesuatu yang dapat a.K.u pelajari bila bertemunya nanti.
InsyaAllah.

Dan a.K.u masih lagi tercari-cari hingga kini.
Hikmah-Nya yang tersembunyi.



:: Ya Allah, lunakkanlah hati hambaMu ini..

Cacamerba~

Bismillah.

Mengambil maklum kata-kata:

"Menulislah, atau engkau akan hilang didalam sejarah."
[Orang Miskin Dilarang Sekolah]

~Entah kenapa sabar & tenangnya hilang diwaktu yang paling tidak perlu ia hilang.
Hikmah oh hikmah....

Tuesday, January 25, 2011

Hangat~




Bismillah.

Kehangatan semakin terasa..
MySpace
Haip!

Mode: mengukur sempadan diri.
(isk, jauh lagi...jauh lagi....adeh.~)

MySpace

Sunday, January 23, 2011

a.K.u~

Gambar senget & blur.. Terima kasih...

Bismillah.

"Sometimes its scary over thinking."
MySpace
Terngiang lagu Aizat Amdan.

*Tak ada kaitan. Harap maklum*

Dan ya..a.K.u tengah bosan.
Eh..bukan..
Tengah tak mahu buat kerja.
Selain.
Layan FB.
Update blog setelah seminggu terabai.

Usai, Res-Q oh Res-Q..
Dan lepas ni..
Pelancaran Jubli Emas 50 Tahun PKPIM.
Jemput datang ya... :)
Bagi a.K.u semangat sikit.
Yeah!MySpace



:: To K.Yna-Selamat datang ke teratak HEWI~

Disebalik 'Hidup Biar Berjasa'

Bismillah.

Tiga yang Allah pilihkan di sana..

*Senyum*

Yang bertahan dengan cabaran.
Yang bertatih dengan kehidupan.
Yang belajar dengan ujian.
Yang mengasih dengan keikhlasan.
Yang mencinta dengan kepercayaan.

Yang meyakini dengan keimanan.
Bahawa apa yang Allah telah takdirkan,
adalah yang terbaik...

Moga Allah kuatkan langkah kami di jalan perjuangan-Nya..
Ameen..

Cik Pengarah yang tenang & ceria.. Dah lama tak jumpa laut agaknya... hehe

Res-Q mungkin dilihat sama seperti program-program lain.
Tapi ya, nilainya sama sekali berbeza.
Cik Fatin Nur yang a.K.u kagumi tenangnya.
& Cik Tikun yang a.K.u hargai semangat & pengorbanannya.
(Jangan nangis-nangis oke! heee :D)

Dan buat mereka yang masih lagi & akan sentiasa menjadi inspirasi perjuangan.
Walaupun tidak bersama,
doa dan semangatnya tetap terasa & sentiasa membara.
InsyaAllah.
Sayang kerana Allah. :)


:: Alhamdulillah..HEWI perkasa, HEWI berjasa.. :)

Monday, January 17, 2011

Misi Menjejak Wali Songo (12)


Bismillah.

Hari ke-12
Surabaya.

Hari ni hari ke-12. Sesuai dengan tarikh 12 November 2010. Kerana itu juga mungkin setakat ni saya tak pernah tersasul dalam rakaman tentang tarikh dan hari ekspedisi.

Hari ini saya dalam debar. Di jemput untuk satu segment bual bicara di Radio Suara Muslim Surabaya. Saya mewakili PKPIM dan Abg. Suhadak mewakili GPTD. Itu persetujuan antara kami yang dimaklumi DJ Sdr. Dadang Hidayat dan sahabatnya Sdr. Didi Syahputra. Isunya soal memperkenalkan PKPIM dan GPTD, soal ekspedisi Wali Songo dan hal lain yang terkait. Sejam di dalam konti, saya berpura tenang dan berusaha menyampaikan sehabis baik. Akhir saya masih tidak berpuas hati. Tapi mungkin itu sisinya Allah mahu didikkan saya dengan kekurangan supaya saya belajar lebih lagi. Juga supaya saya sedar segala kebergantungan adalah pada rahmat dan kekuatan Allah semata, bukan kekuatan diri. Alhamdulillah.

Mangenali sahabat-sahabat dakwah yang hebat ini membantu saya memahami bahawa di sisi dan ceruk manapun, pasti akan ada segolongan manusia yang ikhlas dalam menyampaikan agama-Nya dan mujahadah dalam penderitaan demi-Nya. Sesuai dengan ayat Allah ini:

Maksud: Dan hendaklah ada di antara kamu satu puak yang menyeru (berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam), dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji). Dan mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang berjaya. (Ali-Imran: 104)

Hampir tengahari, kami meneruskan perjalanan ke Sekretariat PII cabang Jawa Timur. Pertemuan singkat bersama anak-anak muda-terlalu muda pada saya mungkin, Chotieb dan temannya Yusuf yang punya cita-cita untuk menyambung pengajian di Malaysia. Akan kami nantikan mereka.

Solat Jumaat hari ini Abg. Suhadak sudah berjanji bersolat di Masjid Hilal (yang dibina oleh Dewan Dakwah) dekat dengan penginapan kami. Perjalanan berjalan kaki hanya mengambil masa 10minit. Usai solat, pertemuan bersama Pak Tamat, wakil DDI membicarakan soal ummat. Maksud saya soal ummat yang perlu dipandangi anak muda yang idealis. Oleh itu anak muda perlu dipelihara cara fikirnya, begitulah pesan Pak Tamat.

Petang tadi, kami menghabiskan waktu di toko buku. Mencari buku-buku terbaik untuk dibawa pulang. Rupanya mencari buku tidaklah semudah yang disangka. Pesan Abg. Suhadak, hati-hati memilih buku, jangan sampai terpilih buku yang salah. Salah dari sudut isi dan pengarangnya. Saya akui nasihatnya. Siapa lagi mahu nasihati saya perkara-perkara begini disini selain dia. Terima Kasih. Dia sememangnya mentor yang baik. Walau kadang saya malas-malas mahu dengar bebelan dia. Heee :D.

Sejujurnya ini yang saya rasa hari ini:

Awal perjalanan terlihat jauh,
Terasa cepat cuma di penghujung,
Dalam membumi makna hakiki dalam diri,
Dalam mengakar iman aqidah dalam hati..
Allahurabbi,
Perteguhkan hati kami.
Dalam jalan perjuangan-Mu ini..
Ameen..



:: Mengira hari.. 2 hari lagi… Allah…Allah

Saturday, January 15, 2011

Teman Jiwa...

Bismillah.

Tiga perkara.

Satu, buku..buku...dan buku...
Dua, orang-orang sekeliling.
Tiga, amanah.

Mana teman jiwa?
Terlupakan?

:: Hmmm... (-_-)"



updated: ko buat aku nak delate entri ni..
tp xjd sbb aku tau ko akan baca juga~
-.-"

Friday, January 14, 2011

Sang Pencerah..

Bismillah.

Darwis lahir dikalangan ulama' dan para Kiyai di Daerah Kauman. Malah keluarga Darwis sendiri merupakan susur galur keturunan Syaikh Maulana Malik Ibrahim, salah seorang wali Allah dari sembilan wali yang mulia (Wali Songo).

Beliau membesar sebagai anak muda yang pintar. Pemikirannya mengenai tradisi yang menyulitkan menjadikannya lebih bersemangat untuk menuntut ilmu. Pemikirannya tidak hanya dibiarkan berlarutan tanpa jawapan dan pernah disampaikan kepada para kiyai, namun ditolak mentah-mentah atas alasan menjaga tradisi turun temurun dan kesejahteraan masyarakat. Kerna itu semangatnya untuk menuntut ilmu di Mekah semakin berkobar-kobar.

Meninggalkan keluarga dan kampung halaman selama 5 tahun dan berguru dengan ulama'-ulama' besar di Mekah seperti Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabaui, menjadikan Darwis seorang yang pantas terpelajar dan berkarisma. Sebelum pulang ke Tanah Jawa, namanya lantas ditukar menjadi Dahlan oleh Syaikh Ahmad. Beberapa waktu selepas pulang dari Mekah, beliau berkahwin dengan Walidah, saudara dekatnya sendiri. Satu perkahwinan pilihan keluarga malah direstui kedua hati Dahlan dan Walidah.

Cabaran awal Kiyai Haji Ahmad Dahlan (yang sentiasa didokong si isteri) menghadapi tentangan mengenai arah Kiblat Masjid Gedhe dan masjid-masjid di sekitarnya yang tersasar dari arah Kaabah mengakibatkan Langgar tempat beliau mengajar dirobohkan.

Seterusnya Si Kiyai pemain biola ini juga sentiasa disalah ertikan sikap dan sifatnya oleh masyarakat malah sebahagian keluarga terdekatnya kerana pendakatan dakwah beliau yang sangat berbeza. Malah beliau juga di gelar 'Kiyai Kafir' hanya kerana memakai pakaian menyerupai Belanda pada zaman itu.

Namun perubahan demi perubahan dipelopori olah Kiyai Haji Dahlan dalam memecahkan tradisi masyarakat yang jauh terpesong dari ajaran Islam yang sebenar. Walaupun berhadapan dengan tentangan luar dan dalam, beliau masih tetap yakin bahawa Islam yang dianuti itu haruslah Islam yang benar dan tidak hanya ikut-ikutan tradisi. Malah Islam yang sebenar bukalah hanya keyakinan hati semata-mata, tetapi harus di ikuti dengan perbuatan yang benar pula.

Demi memantapkan keyakinan prinsipnya, Kiyai Haji Dahlan kerap juga mengadakan perbincangan dan diskusi bersama ulama-ulama besar seperti Syaikh Rashid Ridha, bergabung dengan persatuan Budi Utomo dan sebagainya. Malah perkenan dari Sultan sendiri yang mendanai beliau untuk ke Mekah buat kali kedua dimanfaatkan beliau sebaiknya.

Akhir, perjuangannya menbangunkan Muhammadiyyah atas dasar menyampaikan ajaran Islam yang sebenar terlahir dari segala macam cabaran dan ancaman yang merenggut hati nurani seorang manusia, tercapai dengan jayanya.

p/s: Dan sesungguhnya tidak dinamakan perjuangan itu tanpa cabaran dan ujian. Beruntunglah mereka yang diuji. Keyakinan dan pergantungan pada Allah juga tunjang kekuatan.


‎"Namamu sekarang adalah Ahmad Dahlan," ujar Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabaui. "Pulanglah, dan cerahkan masyarakat dengan ilmu-ilmu yang sudah kau dapatkan selama di sini." (Sang Pencerah, Akhmal Nasery Basral)"



:: Hidup Biar Berjasa :) (tak ada kaitan pon..eheh :P)

Wednesday, January 12, 2011

DIA sahaja...



Bismillah.

Pada diri,
ada ruh dan jasad.

Pada jasad,
ada naluri dan hati.

Pada hati,
ada jiwa dan rasa.

Pada rasa,
ada takut dan percaya.

Pada percaya,
ada yakin pada DIA.

Pada DIA,
a.K.u sandarkan segalanya..


:: Pada setiap yang punya makna....

Sunday, January 9, 2011

Dan dua itu lebih baik...

Bismillah.

a.K.u masih mencuba untuk menghabiskan pembacaan e-book Maria.
Persediaan untuk usrah esok hari.
InsyaAllah.
Moga dipermudahkan.
Akan a.K.u rangkumkan kisah & perbincangannya di blog selepas usrah nanti.
InsyaAllah.


Mungkin bukan buku sastera.
Tapi ada yang maknawi isinya.

Wallahu'alam.

***************************************

Teruja menonton ini:


a.K.u lebih suka andai poster ini bergambar anak-anak pencopet itu.
Tapi ya, kuasa iklan.

"Kenapa kamu mencopet hasil susah payah orang lain? Kenapa tidak diminta baik-baik saja?"
"Saya kan pencopet, bukan peminta-minta."

Tontonlah.
Dan fahami apa ertinya 'pendidikan'.
Yang pasti, ia bukan alat untuk meloncat.
Dan lagi..
Bukan mudah mencari kisah yang punya banyak manfaat.

InsyaAllah.


***********************************

Sedang cuba mempraktikkan.
Memikirkan apa yang perlu difikirkan,
bukan apa yang mahu difikirkan..
InsyaAllah..


:: Tegar.. Allahuakhbar.. :)

Thursday, January 6, 2011

Misi Menjejak Wali Songo (11)

Bismillah.

11 November 2010
Surabaya



Malam tadi kami bertolak dari Semarang lebih kurang jam 10 malam menuju ke Surabaya. Mujur van kali ini lebih besar dari van-van sebelum ini dan lebih selesa. Alhamdulillah. Perjalanan malam tiada apa yang mampu dilakukan selain tidur.

Kami tiba di Daerah Demak dan bersolat subuh di sebuah masjid disana. Tiba di Surabaya, disambut matahari terbit di sepanjang laluan jalan bersebelahan laut (gambar dalam slide). Indah, subahanallah. Berhenti sebentar untuk mengambil gambar dan teruskan perjalanan.

Kami dibawa terus ke rumah penginapan di Pekan Purwodadi dan disambut oleh Pak Irfan dari Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia yang mendanai peginapan dan pengangkutan kami sepanjang di Surabaya. Alhamdulillah.

Jam 9 pagi, masing-masing bersiap-siap untuk ke Makam Wali Songo yang seterusnya iaitu Makam Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Grisik atau Maulana Ishaq dan Sunan Bonang. Sebelum itu kami sempat bertemu Saudara Dadang Hidayat (Ketua Umum HMI cabang Surabaya). Beliau telah menjemput kami untuk menjadi tetamu dalam program bual bicara Radio Suara Muslim Surabaya pada keesokakan harinya. Niat ini telah diberitakan kepada kami sejak di Semarang lagi melalui SMS. Pertemuan singkat bersama Saudara Dadang selain sebagai tanda perkenalan juga untuk mempersiapkan kami dengan siri bual bicara esoknya nanti.

Masjid Sunan Ampel

Bersama Sdr. Fadhil


11 pagi, kami tiba di Makam Sunan Ampel. Disini juga terdapat masjid Sunan Ampel yang sudah berusia lebih 100 tahun. Sedihnya kami tidak dibenarkan mengambil gambar makam. Namun masih juga meneruskan liputan di luar makam. Sebelum pulang, kami kebetulan bertemu seorang pelajar Malaysia dari Institut Bahasa Arab Sunan Ampel-Sdr. Fadhil yang berasal dari Penang.


Pintu masuk Makam Sunan Gresik

Makam Sunan Gresik @ Maulana Ishaq

Usai tugasan di Makam Sunan Ampel, kami bergerak ke Makam Sunan Greisik atau lebih dikenali sebagai Maulana Ishaq. Makam Sunan Grisik lebih terbuka dan jelas untuk diambil gambarnya.

Seterusnya kami ke Makam sunan Drajat yang lebih besar dan luas kawasannya. Terdapat juga surau dan muzium Sunan Drajat. *Kami sudah pun keletihan, tetapi kembara harus juga diteruskan*

Berjalan ke Makam Sunan Drajat

Muzium Sunan Drajat

Di Makam Sunan Giri kami dibasahi hujan dan terpaksa menaiki tangga yang agak tinggi dan meminjam payung dari makcik-makcik peniaga ditepi-tepi jalan sepanjang menaiki tangga. Bersolat jamak Zuhur dan Asar di Masjid Sunan Giri yang menghadap lautan...

Tangga paling atas menuju ke makam Sunan Giri


Ke Masjid Sunan Giri

Masjid Sunan Giri

Sesampai di makam Sunan Bonang kami keletihan. Solat Marghrib dan Isyak di Masjid Sunan Bonang dan keadaan gelap menyukarkan kami untuk mengambil gambar. Jam menunjukkan pukul 9 malam sewaktu kami bergerak pulang.

Makam Sunan Bonang

Hari ini masing-masing lebih banyak diam & fokus dalam menjalankan tugas masing-masing. Tiba-tiba semuanya jadi baik dan tak banyak kerenah. Tapi dalam perjalanan pulang kena marah juga bila buat lawak dan bergaduh tak tentu hala. Sampai pening kepala En.Su dibuatnya.. Maafkan kami En. Su.. huhu..

Terima kasih Pak Irfan (Pemandu) yang sangat baik melayan kerenah kami.. :)

Berteman Ma'athurat dalam perjalanan pulang..



:: Penat yang berbaloi..Alhamdulillah..

Wednesday, January 5, 2011

Cirebon

Bismillah.

Cuma sekali, dalam berjuta kali.
Allah benarkan a.K.u mengambil gambar seperti ini.
Alhamdulillah.

Tuesday, January 4, 2011

*diam*

Bismillah.


Jangan malu jika orang lama menyata;
Kita orang muda yang lemah jiwa.

Bermain lumpur pun harus beralas kaki segala.

*diam*


Jangan segan bila ada yang menyata,
Di uji sedikit sudah tangisnya tak semena-mena.

*diam*


Jangan tergugah bila orang bertanya,
Kenapa dalam merebut pahala pun harus berbuat dosa?


*diam*

Jangan lupa bila ada yang ingatkan,
Pada DIA sahaja tempat berserah & tempat memohon pertolongan.


*diam*


Perteguh hati kami pada Cinta-Mu Ya Allah.
AmeenYaRab.

Perfect Melancholy~


Bismillah.

Pertama.
Satu sahaja untuk Rayyan Fantasi.
"Kurang ranum."

Saja beli.
Membayangkan ia kurang lebih seperti
Trilogi Bagaikan Putri, Cinta Sang Ratu & Hijab Sang Pencinta.

Tak apa.

Dua.
Perfect Melancholy..
a.K.u membayangkan ia terlalu extreme untuk diri.
Lalu a.K.u ambil tiga. (bukan ambil, kurang lebih-tiga ini yang dominan.)

Popular Sanguine, Perfect Melancholy & Peaceful Phlegmatic.

Ah, belajar kenal diri & kenal orang.
Kan seronok tu.. :)


Tiga.

Cirebon.

Saturday, January 1, 2011

Buku lagi...dan segala kisah sebelumnya~

Bismillah.


"Sekadar dibaca di dalam Kinokuniya, KLCC."


a.K.u temui ini dalam 'Kata Luhur' oleh A.Samad Said.
Buat a.K.u merasa pelik.
Tapi penerangannya, menarik. :D


'P E N E R I M A A N' Chairil Anwar

Kalau kau mau kuterima kau kembali
dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tertunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

(Deru Campur Debu, 1959:36)


**************************

Usai bersama KEKANDA '10 di Janda Baik, Pahang..
a.K.u pulang dengan meneruskan rencana Jejak Belia Metropolitan di KLCC.
Sempat juga melayan bunga api bersama Tikun yang pemendam. Haha.
Cuma mungkin terkadang mood a.K.u diluar kawal tatkala penat memikir soal kepercayaan.

Ah, lepaskan.

Berjalan meredah hutan batu-bata menjelang Tahun baru,
terkejut diterpa adik sendiri.
Yang a.K.u ketukkan kepala dia berulang kali.
Hoh.
Walhal dalam hati masih terkesan jalanan 6 kilometer yang diredah semalamnya.
Sewaktu di Janda Baik. Capek.
Namun sejam selepas itu.
Kuatir.
Mana pergi adik a.K.u tadi?
Doa-doa saja sudah pulang melayar mimpi.

Jam 3 pagi.
Masih merayau-rayau di KLCC.
Melihat, meneliti, berfikir, mencari.

********************************************
a.K.u hampir habis membaca buku ini.
[Dipaksakan untuk meminjam.Haha]
Akhirnya sudah miliki sendiri.
Alhamdulillah.


Macam biasa...
Terlalu tulus dan santun..


Terima kasih Jun yang memperkenalkan buku ini.
Sengaja dibeli buat penghibur diri.
Memang tak kering gusi.

Haip!


:: Susun hidup.. InsyaAllah.. :)

HOME

I walked across an empty land I knew the pathway like the back of my hand I felt the earth beneath my feet Sat by the river and it made me c...