Thursday, April 28, 2011

Sabar Itu Indah

Bismillah.


Sabar itu sesungguhnya akan memberikan keindahan pada fizikal kita. Sabar juga akan memberi keindahan pada jiwa dan perasaan kita. Imam al-Ghazali menegaskan bahawa sabar itu ada dua.
Pertama bersifat badani (fizikal). Sabar fizikal berupa seksaan, penyakit dan kesusahan yang menimpa jasad. Yang kedua bersifat rohani (spiritual) seperti ejekan orang, perpisahan, kekecewaan, kegagalan, kematian dan lain-lain yang kebanyakannya menekan nafsu dan bertentangan dengan kehendak diri.

Justeru, jika seseorang mampu bersifar sabar (ketika kesusahan menimpa fizikal dan rohaninya), maka dia akan memiliki dua keindahan. Pertama, keindahan fizikal dan kedua keindahan rohani. Sabar itu bererti “menahan”. Jika kita mampu menahan diri ketika melakukan ketaatan, meninggalkan maksiat dan ditimpa musibah, nescaya akan semakin indahlah wajah dan akhlak kita.

Sabar itu ada di hati. Apabila hati baik, wajah akan kelihatan cantik. Apabila hati baik, kita akan sentiasa dapat melihat kebaikan. Ya, bersabarlah! Do good, you will become good and feel good – buat baik, kita akan jadi orang baik dan kita akan merasai ketenangan dan keindahan dengan kebaikan itu. Sesungguhnya… sabar itu indah!

- Ustaz Pahrol Mohd Juoi


“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo′a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma′aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

– Surah AlBaqarah : Ayat 286

Tuesday, April 26, 2011

Trimas~ [mode: lalalala~]

Bismillah.


Usai PMGK '11 yang riuh rendah.
Caca merba dan sebagainya.
Berjaya juga ia di laksanakan.
Alhamdulillah.

Saya cuma tukang karut.
Ada waktu yang saya mampu untuk ada.
Dan kadang tiada daya membantu lebih dari yang sepatutnya.
Maaf.

Ia tetap indah dengan warna.
Suka duka.
Rajuk hati dan ketawa.
Alhamdulillah.

**************************
Terima kasih buat mereka yang seikhlas hati membersihkan pejabat lewat malam Ahad yang lepas. Usai menghantar Si Afif di Greenwood.
Sungguh-sungguh terima kasih.
*Terharu sangat neh!*

Moga Allah membalasi semuanya dengan kebaikan. Ameen.. :)

**************************

Ke Pesta Buku di hari Isnin selepas bekerja.
Sri Muar - The Mall.
Pertama kali merasai resipi mee bandung muar yang sebenar.
Alhamdulillah lagi.

Tiga buku pilihan.

"Sebongkah Batu di Kuala Berang."
"Sutera Bidadari"

&

"Padang Bulan" & "Cinta dalam Gelas"

Geng Mee Bandung Muar.
[Hakim, Wani, Syafa, Shida & Keron]

Geng Gen-6 Separa matang.
[Syed, Fakhrullah, Azree, Luqman & Hilmie]

Terima Kasih semua.



:: Alhamdulillah.. :)

Thursday, April 21, 2011

Untuk adik saya.

Pic taken from here.


Bismillah.

Untuk adik saya yang selalu pendam-pendam rasa.
Untuk dia.
Dalam hati saya memang ada taman.
Tapi tak bermakna saya tidak peduli kamu.
Perhati kamu.
Jiwa kamu.
Permintaan kamu.
Keperluan kamu.

Saya cuma diamkan.
Sebab kadang bukan masanya.
Jadi, nanti saja.

Jika Allah takdir saya ada.
Akan adalah saya.

Jika memang di takdir bukan saya.
Pasti akan adalah nanti yang lain akan bersama.

Percaya saja.
Saya nampak air mata kamu.
Saya nampak.

Cuma mungkin saya tak mampu nak rasa.
Ampun maaf di pinta.



:: Saya cuba untuk ada kalau kamu mahu saya untuk ada.

Wednesday, April 20, 2011

Tenggelam.

Bismillah.


"Lagi-lagi soal cinta." Kata adik.

Saya senyum.

"Bila mendapat Cinta Allah, cinta yang lain pun mendatang." Sambungnya.

"Tahu pun." Detik hati.

Sambil senyum lagi.

Saya tenggelam.
Tenggelam.
Noktah.


Kembali Pada Tuhan

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.

Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
kerana Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata wang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.

Begitulah caranya!

Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayuhlah datang, dan datanglah lagi!

Kerana Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu,
kerana Akulah jalan itu.”

~ Jalaluddin Rumi


:: Kan indah tu.. :)

Tuesday, April 19, 2011

RICH: Ilir-ilir Ost Sang Pencerah [HQ]- edited~


Bismillah.

Ilir-ilir kali ini bukan hanya satu realiti kreativiti.
Saya mencemburui falsafah di sebalik tiap bait lirik katanya.
Sungguh ulama' silam Nusantara [Sunan Kalijaga] benar Tuhan kurnia bakat seni yang dalam.
Subahanallah.

Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…

Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,?
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…

Lir ilir, judul dari tembang di atas. Bukan sekedar tembang dolanan biasa, tapi tembang di atas mengandung makna yang sangat mendalam. Tembang karya Kanjeng Sunan ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah. Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menterjemahkan lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“.

Apakah makna mendalam dari tembang ini? Mari kita coba mengupas maknanya

Lir-ilir, lir-ilir tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? Pikiran? terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan.

tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.

Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan.

Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“.

dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.

Yo surako surak hiyo. Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)

Sumber: Di sini..


:: Bahagia. Alhamdulillah. :)

Thursday, April 14, 2011

Pilih.


Bismillah.

Mesti semua orang tengah pening sebab saya asyik tukar design je.
Hehe.
Oke. Sila abaikan.
[Mode: Dalam pencarian]

******************************

"وَمَآ ءَاتَيْنَهُم مِّن كُتُبٍۢ يَدْرُسُونَهَاۖ وَمَآ أَرْسَلْنَآ إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِن نَّذِيرٍۢ "

Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca dan sekali-kali tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun." (QS. SABA':44)

Untuk menjadi seorang pengingat,
dengan sifat manusia yang pelupa,
amatlah payah.

Dan kerna itulah.
Kita memerlukan.
Untuk saling memperingatkan.
Untuk sama-sama tenggelam dalam cinta-kasih Tuhan.
Kerna itulah sebenarnya sebuah pengakhiran kehidupan kita sebagai insan..

Kata Rumi dalam kecintaanya pada Rabb:

" There is no existance remaining in my body except you,
O My Beloved!
I will therefore disappear in you,
The way vinegar disappears in a sea of honey."



:: Tunggu kamu... :)

Wednesday, April 13, 2011

'Ku bukan orang hebat.. & RUMI

Bismillah.


'Ku bukan orang hebat.
Tapi 'ku sedar Tuhan sudah kurnia kudrat,
Juga tulang empat kerat,
Buat dibasahi keringat,
Jadi tanggungjawab 'ku berat,

'Ku bukan orang hebat,
Berkata-kata pun tergagap-gagap terencat,
Tapi Tuhan sudah beri nikmat,
Untuk 'ku kongsi sama yang mau dapat.

'Ku bukan orang hebat,
Tanpa Tuhan yang beri 'ku hikmat.
Ke mana-mana pun DIA yang memberi kuat,
DIA yang mengaturkan akibat.

'Ku cuma mahu jadi hebat dengan DIA,
Bukan dengan apa yang orang lihat 'ku ada.

***********************************************


"People want you to be happy. Don't keep serving them your pain! If you could untie your wings and free your soul of jealousy, you and everyone around you would fly up like doves."-Rumi

'Ku tidaklah menggilai Rumi.
Namun sesuatu tentangnya menarik hati.
Terima kasih buat yang memperkenal 'ku pada dia.

'Ku cuba hayati nikmatnya kedalaman 'CINTA' Rumi pada Rabbi.
Hanyut dalam kedalaman yang maknawi & hakiki..

*********************************************

Sabahan.
'Ku pasti kan selalu rindukan kalian.
Pasti.

(^_^)v

Thursday, April 7, 2011

Misi Menjejak Wali Songo (14)

Bismillah.

Hari ke 14
14 November 2010
Juanda

'Es Jeruk'. Minuman kegemaran sepanjang di Tanah Jawa.

Hari ke 14 membawa menung dan fikir yang panjang. Namun hari ini juga, masing-masing berdebar kencang. Bakal menjejakkan kaki semula di Malaysia beberapa jam lagi. Untuk hari yang terakhir di Tanah Jawa, kami berqiyamullail dan bersolat subuh berjemaah. Usai subuh, tazkirah ringkas dan perkongsian dari setiap seorang. Entah kenapa hari ini yang kerap disebut soal masa lalu dan masa depan. Soal ibu ayah dan ketaatan seorang anak. Masing-masing punya kisah dan cerita tersendiri. Keharuan.

Kiyai Su dan tongkat Sakti. Hek3.

Usai tazkirah kami bersiap-siap mengemas barang. terkejar-kejar dengan waktu darihal ketiadaan air sedikit menyesakkan. Sepatutnya kami bertolak ke Bandara Juanda (Lapangan Terbang) seawal 7.30 pagi, namun hingga jam 8.00 kami masih belum bertolak sedangkan waktu yang dijadualkan berlepas jam 9.30 pagi. Alhamdulillah, akhirnya kami masih juga mampu sampai pada waktunya di bantu supir (Pak Irfan) dan van tajaan DDI.

Hani dan kipas patah. Ngee :D

Saat-saat akhir di Tanah Jawa kami habisi dengan mengenang waktu-waktu sepanjang dua minggu. Mengingat kembali mereka yang telah banyak membantu. Tak ketinggalan juga menahan sabar untuk menjejakkan kaki di Malaysia nanti. Segalanya bercampur.

Tiba di Kuala Lumpur, sahabat jiwa orang pertama yang saya hubungi. Saya menahan untuk menelefon Emak sehingga waktu yang benar-benar selesa untuk saya dan Emak melepas rindu. Suara Emak yang mendamaikan membuatkan saya lega dan berpuas hati. Saya bersyukur kerana redha Emak sentiasa mengiringi. Harapnya membuktikan Redha Ilahi juga. InsyaAllah.

Senyum garang Cik Rau~

Tukang cari pasal & kamera mahal~

"Saya janji nak jadi budak baik.." Hmph...

Izat si kanak-kanak rebena~ Lalala~

Alhamdulillah. Akhirnya Allah takdirkan juga misi berakhir dengan baik. Malah yang diharap beribu manfaat telah di kutip sepanjang perjalanan pengalaman, telahpun di terima sebaiknya. Yang bukan hanya dengan niat menjayakan misi hidup. Tetapi juga misi mengejar hidup selepas mati. Amin ya Rabb. Alhamdulillah.

Buat semua yang menyumbang tenaga, berkongsi rasa, melatih diri, memberi percaya dan menghadiahi doa. Terima kasih di ucapkan. Keluarga yang di cintai, sahabat yang jauh, yang dekat, senior yang hebat-hebat.. Tak terkata ucap maaf dan terima kasih. Moga Allah membalas semuanya dengan kebaikan dunia & akhirat. Ameen.


:: Ini bukan travelog terakhir..InsyaAllah :)

Wednesday, April 6, 2011

Newest...

Bismillah.

Kakak sampai sekarang pun masih belum pandai bercakap.
Kecuali beberapa sebutan.
Contohnya, dia memanggil Mommy nya hanya dengan pkataan 'Mi' dan
Daddy dengan perkataan 'Di'.
Tak berapa gemar nak kacau adik-adik, lebih suka bermain sendiri.
Tapi kadang-kadang ada saja dikacaunya Ian.

Izzah seperti biasa, kawan baiknya adalah ayah.
Ayah adalah milik dia seorang.
Tiada orang lain dibenarkan merampas ayah dari Izzah walaupun adik Idleen.
Noktah.
[Uii, garang~]

Idleen kawan baik Ibu.
Pantang kalau Ibu hilang, mula la mencebik nak menangis.
Disebabkan Idleen belum mampu buat apa-apa,
pasrah saja kalau selalu jadi mangsa kakak-kakak dan abang.
*Sian dia....*

Ian baru saja 'dapat kaki'.
Kerjanya tiap-tiap hanri hanya berjalan kesana sini.
Tanpa kenal letih dan penat.
Paling mudah senyum.
*sweet~*

Dhiya sangat rajin berborak walau sepatah haram kami tak faham.
Memanggil Ibu sebagai 'Abu'.
Dan selalu bertanya 'pe ni?' pada semua benda yang dilihat.
Dan bila menangis hanya menyebut 'Ayah..'.
Hihi. Comel~

Rupanya mereka dah berlima..
Meriah~

*****************************************

Demi semua si kecil inilah a.K.u kira memang wajar a.K.u teruskan jalan yang sedang a.K.u lalui sekarang. Mungkin natijahnya lambat lagi. Jauh lagi. Tapi andai tidak diusahakan sekarang, bagaimana kan tercapai akhir nanti.

Allahu'alam...

Monday, April 4, 2011

Ahsana 'I-qasas (Kisah Terindah)

Bismillah.

Ahsana 'l-qasas (Kisah Terindah)

Oleh: Y.Bhg. Dato' Dr. Siddiq Fadzil, Presiden Kolej Dar al-Hikmah.

Dari sekian banyak kisah-kisah yang termuat dalam al-Qur’an, surah Yusuf diistimewakan dengan sebutan ahsana ‘l-qasas atau kisah terindah (surah Yusuf:3). Penamaan tersebut tentu ada justifikasinya. Ia adalah kisah paling lengkap dari segi liputannya. Pemerian tentang tokohnya (Yusuf `a.s.) menggenapi seluruh babak-babak penting sepanjang usia dari masa kanak-kanaknya hingga masa puncaknya ketika menjadi `Azizu Misr.

Setiap babak dipaparkan secara rinci - adegan-adegan dan dialog-dialognya. Kisah Yusuf `a.s. adalah kisah yang paling sarat dengan mesej iktibar dan hikmah, di samping padat dengan nilai dan prinsip keilmuan yang cukup pelbagai: tauhid, fiqh, sirah, ta`bir mimpi, politik, ekonomi, pengurusan dan lain-lain.

Demikian pula dari segi aktornya yang juga cukup pelbagai, mewakili makhluk dari pelbagai jenis, sektor dan golongan: manusia (lelaki dan perempuan), nabi, jin, syaitan, malaikat, haiwan, raja, peniaga, ilmuwan dan orang awam. Kisah terindah dengan segala babak dan adegannya itu membawa pesan induk: maslahah kehidupan duniawi-ukhrawi, sabar menanggung derita dan sifat pemaaf ketika kuat.

Keindahan kisah Yusuf `a.s. dapat dinikmati dari segi gaya pengungkapan yang tepat dan padat, kata-kata yang singkat membawa makna yang luas, mendalam dan penuh hikmah. Juga dari segi olahan seni tentang pelbagai aspek kehidupan insani yang diungkapkan lewat paparan peristiwa-peristiwa nyata, tetapi sekaligus mengisyaratkan implikasi-implikasi kejiwaan-kerohanian: kasih ayah terhadap anak tersayang, kedengkian saudara-saudara kandung, derita batin orang tua yang kehilangan anak kesayangan, cinta, nafsu, fitnah, maruah, integriti moral dan lain-lain yang semuanya membawa pesan tentang kehidupan mulia dan bermaruah berasaskan nilai nilai taqwa dan kebenaran.

Kisah ini menampilkan Yusuf `a.s. dengan citra makhluk istimewa, lelaki paling kacak dengan daya pesona luar biasa sehingga wanita-wanita Mesir pengagumnya mengeksprasikannya lewat kata malakun karim (malaikat mulia). Tetapi mesej sebenarnya tidak sebatas keindahan fizikal lahiriah, tetapi lebih jauh daripada itu keindahan rohaniah yang disimbol dan dilambangkan dengan keindahan lahiriah itu.

Surah Yusuf - Penawar Lara Tahun Duka
Sebagai salah satu surah Makkaiyyah yang turun pada tahun kesepuluh bi`thah, tahun yang dicatat sebagai `am al-huzn atau tahun duka, surah Yusuf membawa nada tersendiri, sesuai dengan suasana murung ketika itu. Pada tahun tersebut Rasulullah s.`a.w. kehilangan dua orang pendamping utama dalam perjuangannya iaitu Abu Talib (bapa saudaranya) dan Sayyidatina Khadijah r.`a. (isteri tersayang).

Kehilangan besar itu diikuti pula dengan bertambahnya keleluasaan penentangan ganas dan teror Quraysh terhadap Islam dan umatnya. Tidak seperti surah-surah Makkiyyah lainnya yang rata-rata bernada tegang dan kadang-kadang konfrontatif-kombatif, surah Yusuf lebih mengesankan rasa damai, tenang dan menyejukkan.

Kisah Yusuf `a.s. memang kisah terindah (ahsana ‘l-qasas) yang cukup mengesankan kerana ia bukan karya fiksyen, cereka imaginasi seniman; tetapi peristiwa nyata dalam sejarah yang diungkapkan lewat wahyu Ilahi. Pengkisahan Qur’ani pada hakikatnya adalah pengungkapan sunnatu ‘Llah, hukum sejarah ketetapan Ilahi yang tidak berubah. Derita adalah bahagian daripada kehidupan Yusuf `a.s., pewaris martabat kenabian. Seolah-olah derita adalah harga yang harus dibayar untuk martabat mulia bernama nubuwwah.

Demikianlah kehidupan yang dijalani oleh Yusuf `a.s., sebuah perjalanan hidup yang tidak putus-putus dirundung malang, mulai dari korban konspirasi kedengkian saudara-saudara sendiri yang mencampakkannya jauh ke pedalaman gaung perigi bagaikan sampah, dijual kepada pengembara bagaikan barangan murah, difitnah sebagai lelaki penggoda bermata keranjang dan akibatnya ia dipenjara sebagai banduan tak bermaruah. Tetapi kesudahannya, sikap tabah selalu membawa barakah, sabar menanggung musibah akan berakhir menuai tuah. Segalanya adalah rencana Ilahi untuk membina watak pejuang kebenaran di samping berkompetensi menempati posisi `Azizu Misr, orang kuat dan terhormat di Mesir.

Surah Yusuf yang mengungkapkan hakikat pahitnya hidup berprinsip dan getirnya istiqamah dalam perjuangan demi kemuliaan hakiki, meniupkan angin segar dalam kehidupan Nabi s.`a.w. yang kebetulan sedang menjalani hari-hari duka. Dari kisah Yusuf `a.s. Junjungan mendapat kekuatan menghadapi keganasan bapa saudaranya sendiri Abu Lahab dan Abu Jahl. Ternyata junjungan s.`a.w. tidak sendirian mengalami nasib dianiaya oleh anggota keluarga sendiri, Nabi Yusuf `a.s. juga telah lebih dahulu menjadi mangsa penderaan angkara saudara-saudara kandungnya sendiri.

Demikianlah kenyataan yang harus diterima bahawa yang namanya hasad, dengki, dendam, benci, angkuh dan lain-lain sejenisnya memang tidak mengenal mangsa, ia boleh berlaku terhadap siapa sahaja: saudara atau keluarga, kerabat atau sahabat. Junjungan s.`a.w. juga mendapat suntikan optimisme dan keyakinan baru bahawa apabila sampai masanya kegetiran yang sedang dialaminnya akan berlalu dan berkesudahan dengan kejayaan. Demikianlah sebuah surah penawar duka, pengubat derita. Penurunannya pada tahun murung `am al-huzn sungguh amat bererti. Ia terasa sebagai siraman kasih Ilahi yang menyejukkan dan pancaran cahaya yang menyinarkan harapan.

Pakej Penyelamat Ekonomi Mesir
Menerusi perjalanan hidup hamba-Nya Yusuf al-Siddiq `a.s. Tuhan menyerlahkan kekuasaan-Nya merubah nasib seseorang - dari penjara ke tampuk kuasa, melalui proses yang di luar perkiraan politik manusia. Segalanya bermula dengan mimpi raja yang tidak ditanggapi secara serius oleh para pembesar di sekelilingnya. Mereka hanya menganggapnya sebagai adghathu ahlam, mimpi karut yang membingungkan.

Tetapi rupa-rupanya mimpi itulah yang menjadi titik mula rangkaian peristiwa yang akhirnya menampilkan Yusuf `a.s. di pentas dunia, menghadirkannya di panggung sejarah, dan lebih daripada itu mengabadikan namanya dalam kitab mulia wahyu Ilahi sebagai tokoh misali, wira Qur’ani ahsana ‘l-qasas, kisah terindah. Kisah bagaimana berlakunya perubahan nasib dari penjara ke tampuk kuasa itu terpapar indah dalam surah Yusuf ayat 43-57 (lihat lampiran).

Mimpi tersebut tampaknya cukup meresahkan raja, tetapi tidak seorang pun dari kalangan pembesar-pembesar negeri yang tahu tentang mimpi. Mereka juga tampaknya tidak mahu mengambil tanggungjawab terhadap risiko pemaknaan mimpi (salah benarnya) dan langkah-langkah susulannya. Menerusi usaha seorang pembantunya yang dahulu pernah berkenalan dengan Yusuf `a.s. sewaktu sama-sama di penjara akhirnya raja mendapat ta`bir dan makna yang cukup meyakinkan tentang mimpinya dari Yusuf `a.s., malah yang diberikan bukan cuma makna tetapi juga saranan langkah-langkah yang harus diambil.

Memang wajar jika raja ingin sekali bertemu dengan orang yang berjasa menta`birkan mimpinya, bahkan bukan hanya ingin bertemu, ia juga ingin menyerahkan tugas pelaksanaan langkah-langkah mengatasi krisis ekonomi yang diramalkan akan berlaku. Baginya tidak ada orang lain lagi. Orang yang tahu menta`bir mimpinya dan tahu pula langkah-langkah susulannya, dialah yang paling layak melaksanakannya kerana hanya dia yang memahaminya, yang punya wawasan, punya konsep, punya formula dan punya strategi. Untuk itu diperintahkannya agar Yusuf `a.s. dikeluarkan dari penjara dan langsung dibawa ke istana.

Demikian sikap raja, lalu bagaimana pula pendirian Yusuf `a.s.? Di sinilah terserlahnya kebesaran jiwa dan keagungan peribadi Yusuf `a.s., nabi da`i-murabbi yang mendapat kurnia hukman wa ` ilman, kebijaksanaan dan keilmuan dari Tuhan. Dengan ikhlas beliau telah memberikan khidmat tafsiran mimpi dan saranan langkah-langkah menghadapi musim kegawatan ekonomi, khidmat yang diberikan tanpa syarat. Sekalipun dirinya sendiri teraniaya dalam penjara gara-gara fitnah jahat, tetapi beliau tetap siap menyumbangkan khidmat demi tanggungjawab kemanusiaan. Beliau tidak mengambil kesempatan menjadikan kepakarannya menta`bir mimpi sebagai kekuatan tawar-menawar bagi mendapatkan pembebasan, walhal beliau tahu bahawa kepakarannya sangat diperlukan.

Sekali lagi Yusuf `a.s. mengambil sikap yang mencengangkan semua orang ketika perintah pembebasan disampaikan kepadanya. Nabi Allah itu tidak mahu keluar dari penjara, sebaliknya beliau meminta utusan raja itu pulang untuk menanyakan kepada rajanya tentang wanita-wanita yang memfitnahkan dahulu. Maksudnya Yusuf `a.s. hanya akan keluar dari penjara setelah namanya dibersihkan. Baginya yang penting bukan keluar penjara, tetapi pemulihan maruah dan kehormatannya.

Tidak ada gunanya kebebasan tanpa kehormatan. Apa lagi apabila nanti beliau melaksanakan tugas mengurus ekonomi negara, tanpa integriti moral yang tinggi tugas tersebut tidak akan dapat dilaksanakan dengan berkesan. Yusuf `a.s. perlu mendapat kepercayaan dari semua pihak, kerana beliau amat menyedari bahawa tahap tahap kepercayaan yang rendah (low trust) akan menjadi kendala kelancaran tugas.

Yusuf `a.s. Berjaya memperjuangkan pemulihan maruah dan kehormatan dirinya apabila wanita-wanita yang memfitnahnya dahulu membuat pengakuan bahawa beliau tidak bersalah. Isteri al-`Aziz sendiri mengaku beliaulah yang telah menggoda Yusuf `a.s., bukan sebaliknya. Hanya setelah itu Yusuf `a.s. keluar meninggalkan penjara untuk menyanggupi tugas mengurus ekonomi negara yang sedang diancam krisis gawat, dengan mendapat dukungan dan kepercayaan penuh raja yang memberinya kedudukan makinun amin, kukuh dan terpercaya.

Nabi Yusuf `a.s. tidak tampil dengan citra hamba setia yang siap menjunjung titah, tetapi dengan kewibawaan peribadi termasuk kridential kelayakan hafizun `alim, pengurusan yang kompeten dan berkesan serta ilmu yang relevan, cukup layak mengendalikan portfolio khazanah negara khususnya ekonomi pertanian. Rancangan ekonomi empat belas tahunnya ternyata berjaya menyelamatkan rakyat Mesir dari landaan krisis ekonomi akibat kemarau panjang.

Kejayaan tersebut antara lain kerana kebijaksanaan dasar ekonomi yang berasaskan keseimbangan pelaburan, perbelanjaan dan penabungan; di samping pelaksanaannya yang cekap dan berkesan. Nabi Yusuf `a.s. sendiri turun padang melakukan pemantauan dari dekat dan secara langsung (yatabawwa’u minha haythu yasha’). Demikianlah terlaksananya sebuah model pakej ekonomi penyelamat yang meliputi kebijaksanaan perancangan, kewibawaan pengurusan dan keberkesanan pelaksanaannya.

Ternyata, model pembangunan ekonomi yang dipromosikan oleh Nabi Yusuf `a.s. tidak hanya bersifat kuantitatif dan kebendaan. Ia juga berdimensi kemanusiaan yang kental dengan nilai-nilai moral dan sosial. Dengan kata lain, ia mungkin dapat disebut sebagai dasar ekonomi rahmatan li ‘l-`alamin, ekonomi yang merahmati umat sejagat, bukan ekonomi kapitalistik yang rakus dan mementingkan diri. Dimensi kemanusiaan ini tampak jelas apabila daerah-daerah sekitar Mesir yang juga ditimpa musibah kelaparan turut mendapat limpahan bantuan ekonomi (bahan makanan) dari `Azizu Misr Yusuf (`a.s.).

Mereka berdatangan ke Mesir setelah tersebarnya berita bahawa ekonomi negara itu stabil dan mampu melaksanakan skim bantuan kemanusiaan. Ternyata Nabi Yusuf `a.s. tidak hanya berfikir dalam konteks ekonomi nasional, tetapi juga ekonomi regional, malah telah meletakkan asas-asas penting pembinaan order ekonomi global yang yang kukuh dan manusiawi. Nabi Yusuf `a.s. telah meninggalkan legacy moral kemanusiaan yang cukup inspiring: bahawa pada saat paling susah, masih ada sifat pemurah; bahawa ketika meratanya kesengsaraan, masih ada kemanusiaan. Kesusahan bukan alasan untuk meninggalkan kepedulian.

Penutup
Demikianlah sebahagian daripada sorotan terhadap ahsana ‘l-qasas yang menampilkan kisah Sayyidina Yusuf al-Siddiq `a.s., nabi-da’i-murabbi multi dimesi dengan kepakaran yang pelbagai, dari penta`bir mimpi hingga ahli ekonomi. Yang jelas apa pun bidang keahliannya, profesi apa pun kerjayanya, tidak pernah walau sesaat Yusuf `a.s. melupakan misi asasinya: dakwah dan tarbiah membina ummah.


:: “Orang yang mengingati Allah ketika berdiri dan duduk ketika berbaring dan mereka memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (mereka mengatakan): Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menjadikan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, peliharalah kami daripada seksa neraka.

Inspirasi Tokoh: Generasi Salahuddin Al-Ayyubi


RESOLUSI [SINT] SALAHUDDIN AL-AYYUBI : KETOKOHAN SALAHUDDIN AL-AYYUBI DALAM MEMPERKASA GENERASI MUDA

1) FAKTOR PENTING KELEMAHAN UMAT ISLAM ADALAH PENGAMALAN FAHAMAN SEMPIT (FANATIK PUAK) DALAM KALANGAN ULAMA’ DAN MASYARAKAT.

- Hal ini dapat dilihat sebelum zaman Hujjatul Islam Imam al-Ghazali, rata-rata ulama’ fanatik dengan mazhab masing-masing. Namun, apabila muncul Imam al-Ghazali keadaaan sedemikian berubah dengan usaha tajdid beliau. Usaha ini didokong oleh Sultan Nizam al-Mulk dan Sultan sendiri banyak berperanan dalam mengembalikan masyarakat pada ketika itu kepada ajaran Islam sebenar.

2) GENERASI MUDA PERLU BERPAKSIKAN KEPADA AQIDAH MATINAH (AQIDAH YANG MANTAP), BUKAN KEPADA NILAI NISBI YANG MENGATASI NILAI AGAMA (ISLAM).

- Sebelum berjaya membebaskan Baitul Maqdis daripada tentera Salib, Salahuddin al-Ayyubi terlebih dahulu ‘membersihkan’ fahaman masyarakat daripada pelbagai fahaman yang sesat. Fahaman sesat itu digantikan dengan Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah. Misalnya, Sultan Salahuddin al-Ayyubi berjaya menumbangkan kerajaan Mesir di bawah fahaman Syiah Batiniyyah Fatimiyyah.

3) PENDIDIKAN ISLAM BERSEPADU MERUPAKAN TERAS UTAMA DALAM MEMPERKASA GENERASI MUDA SETERUSNYA MENGEMBALIKAN KEGEMILANGAN GENERASI SALAHUDDIN AL-AYYUBI.

- Sistem pendidikan Islam bersepadu yang meliputi ilmu fardhu ain dan ilmu alat telah diperkenalkan oleh Imam al-Ghazali bagi mengatasai masalah ‘penyakit’ umat ketika itu. Sistem madrasah Imam al-Ghazali telah diteruskan oleh ulama’-ulama’ selepasnya sehinggalah berjaya mendidik seorang pejuang Islam yang kompeten Sultan Salahuddin al-Ayyubi.

4) GENERASI MUDA PERLU BERFIKIR SECARA HOLISTIK DAN KREATIF DALAM MENCARI PELUANG UNTUK MEMAJUKAN POTENSI DIRI BERLANDASKAN AJARAN ISLAM.

- Contoh yang ditunjukkan oleh Salahuddin Al-Ayyubi dalam merancang strategi perang sangat dikagumi oleh semua pihak termasuk pihak musuh. Salahuddin al-Ayyubi berjaya menyatukan Syria dan Mesir dalam usaha penggabungan tenaga untuk menawan Baitul Maqdis.

- Beliau sentiasa mencari peluang dalam untuk mengelirukan pihak musuh dan juga mengikut jejak langkah Rasulullah SAW ketika perang.

5) GENERASI MUDA MESTI SENTIASA BERANI BERTINDAK DALAM MENEGAKKAN KEBENARAN DAN KEADILAN.


Disediakan oleh :
Ibnu Ghazali
Ketua Grup Jil Salahuddin al-Ayyubi



:: Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya..

Sunday, April 3, 2011

Kasihan kerbau ni...

Bismillah.


Awal pagi tadi, bila adik saya tanyangkan kartun ni,
dia berkata:
"Akak perasan tak, kerbau ni macam akak dan bangau tu macam saya"

Saya baru nak ketuk kepala dia sebelum cepat-cepat dia menyambung,
"Maksud saya, bengau ni asyik dok berkepit dengan kerbau tu 24/7 dan tak nak lepaskan kerbau tu."

"Heh." *sinikal*

"Yela, saya kan asyik berkepit je dengan akak. Lepas tu orang lain pun sibuk juga nak berkepit dengan akak." Sambungnya lagi.

Saya cuma mampu gelak guling-guling sambil tekap muka dengan bantal. *tipu*

Ok. Abaikan. Adik saya memang blur. Tapi dia jujur.
Cukuplah.



:: Peace..(n_n)v

Friday, April 1, 2011

Dalam fikir...


Bismillah.

Rupanya kalau mahu melontar kata, jangan tersalah nada.
Kelak tersilap didengar, tersilap juga menilai makna..

Kadang-kadang ada tertanya sama diri.
Ujian Tuhan bertambah berat,
atau jiwa aku yang semakin kecil?

Jawapannya ada.
Tapi untuk aku simpan sendiri.
[Setakat ini]

Apa pun.
Entri di bawah ini dari blog beliau.

Jom hayati dan renungi makna di setiap bait kata.

Seorang murid bertanyakan shaikhnya, mengapa tiada dia dinaikkan tarafnya ke darjat yang lebih tinggi, sedangkan sudah berpuluh-puluh tahun berguru dengannya. Shaikh menjawab sambil bangun mencoretkan beberapa titik di tembok di belakangnya: 'Wahai anakku, cuba beritahu apa yang kau lihat di sini', katanya sambil menunjuk kepada tembok. 'Hamba melihat beberapa coretan titik di situ', jawab si murid.


Lantas shaikh berkata: 'Kau hanya melihat titik tanpa melihat bidang luas tembok yang putih melepak ini; kau hanya memandang pada noda-noda kecil, tiada pada keputihan yang meliputi pandanganmu; kau hanya ashik pada memencilkan yang batil tanpa mengikrarkan hak yang nyata terbentang di hadapanmu! Maka dari itu bahtera pelayaran di lautan ruhani akan senantiasa tergendala tersauh cetek pada pantai permulaan.'


Risalah Untuk Kaum Muslimin; perenggan 63


01 April 2011
8.13 pagi
Kafe ECONS IIUM



:: Zikir dalam fikir... :)

HOME

I walked across an empty land I knew the pathway like the back of my hand I felt the earth beneath my feet Sat by the river and it made me c...